Selasa, 26 Februari 2013

Dunia kerjaku yang terjal & berliku, namun indah. PT IKI Pasti Bangkit !!!

Tahun 2005 sd 2011 adalah saat-saat PT IKI mati suri. Menjadi penting buat saya karena di situlah tempat kerja saya setelah lulus dari Teknik Perkapalan Unhas tahun 2003.

Dengan status sudah menikah, punya anak 1, lulusan teknik perkapalan, tidak luas lapangan pekerjaan yang bisa saya jangkau. Saya pun tidak berani bermimpi untuk "merantau" keluar Makassar seperti kebanyakan teman-teman saya satu alumni.

Bulan Mei 2004, saya diterima kerja di PT IKI. Sebuah perusahaan galangan kapal plat merah milik BUMN. Pertama kali di tempatkan di Bagian Pemasaran Unit Galangan Makassar. Saya banyak bertemu alumni Teknik Perkapalan tahun 80 an. Saya menjadi salah satu yang temuda di kantor ini. Tempat kerja yang nyaman, tidak ada tekanan, dan karyawan/ti ramah seperti keluarga sendiri.
Bulan pertama menjadi saat-saat adaptasi mengenal dunia kerja, bersosialisasi dengan banyak orang yang berhubungan dengan dunia kerja. Jumlah Karyawan 200 orang ditambah subkontraktor yang jumlahnya tidak sedikit.

Sampai pada akhir bulan menjelang saat-saat gajian. Saya sempat bertanya pada salah seorang teman tanggal berapa bisanya gajian? Tapi jawaban yang saya terima cukup mengejutkan "kalau ada uang". Nah lhoooo....

Akhirnya tanggal 1 pun tiba, tidak ada aktifitas gajian seperti yang saya bayangkan, dan tidak ada yang gelisah seperti saya. Ada apa ini? Sepertinya semua sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Baru saya tahu setelah pasang kuping sana sini & menggunakan ilmu analisa sendiri untuk menyimpulkan, bahwa ternyata kantor ini harus kerja keras, bahkan sangat keras untuk dapat menggaji karyawannya. Tidak jelas gajian tanggal berapa, pun kalau terima gaji kadang harus dicicil. Masya Allah.

Suami saya hanya senyum-senyum ketika saya curhat setiba di rumah. "Sudahlah mam, jalani saja dulu. Hitung-hitung dapat pengalaman kerja" katanya tetap mensupport. Saya jadi malu menceritakannya pada adik dan mammi saya. Apa kata dunia??? Jadi saya tetap mentraktir mereka ketika mereka anggap saya sudah terima gaji pertama hehehe.

Waktu pun terus berlalu dengan kondisi yang semakin memburuk ternyata, dan anehnya saya jadi terbiasa dengan dengan keadaan ini. Mungkin begitulah juga teman-teman yang lain waktu saya bingung dengan sikap mereka. Akhirnya terbiasa, tidak punya daya untuk melakukan perubahan karena kondisi industri maritim di Indonesia memang sedang terpuruk. Tidak ada order pembangunan kapal baru, sehingga praktis pemasukan perusahaan hanya mengandalkan reparasi kapal dan perbengkelan. Sementara main bisnis perusahaan ini adalah Shipbuilding.
Kalau tahu begitu, kenapa karyawan di sini banyak sekali? Ternyata dulunya ada proyek besar pengadaan Kapal Ikan Mina Jaya yang jumlahnya puluhan kapal, kerjasama dengan Spanyol dan pembiayaan PANN Multi Finenace sehingga ada perekrutan besar-besaran. Tapi sayangnya proyek ini kandas diterpa badai krisis moneter tahun 1997 dan meninggalkan pilu di hati karyawan/ti. Pelan-pelan kegiatan produksi semakin menurun diikuti dengan kondisi keuangan perusahaan yang terus merosot.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan selain bertahan hidup. Kisah-kisah pilu derita karyawan pun dimulai. Ada yang harus rela ditinggal istri karena ekonomi keluarga carut marut, ada yang harus bolak balik menghadap kepala sekolah anaknya untuk meminta kebijakan pembayaran sekolah, ada yang harus main "petak umpet" dengan penagih kredit atau debt collector, bahkan tidak sedikit yang harus menangis ketika ada anggota keluarganya yang sakit dan butuh perawatan di rumah sakit.
Sungguh masa-masa yang sulit, tapi kondisi ini terus menumbuhkan rasa persaudaraan yang tinggi di antara kami sehingga setiap duka menjadi duka bersama. Dewan Direksi pun tidak henti-hentinya berusaha dan meminta bantuan untuk menyelamatkan perusahaan ini.

Beberapa karyawan terpaksa keluar atau mengundurkan diri dari kantor untuk mencari kehidupan yang lebih baik karena kondisi ini belum pasti dimana ujungnya sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Tentu tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan di galangan lain ataupun menjadi konsultan independen dengan bekal pengalaman kerja di PT IKI selama puluhan tahun.
Sampai pada akhir 2011, sepertinya menjadi puncak penderitaan. Management terpaksa mengambil kebijakan untuk meliburkan atau merumahkan karyawan selama hampir 1 bulan. Tidak ada alasan yang jelas dan tidak ada lagi kekuatan untuk bertanya kenapa??? Semua pasrah menerima dan mencoba mencari jalan keluar sendiri sendiri untuk tetap bisa bertahan hidup.

Di rumah ketika saya menjalani "libur panjang" ini, tiba-tiba telepon berdering. Dari seorang teman yang mengabarkan bahwa Menteri BUMN yang baru Bapak Dahlan Iskan merombak Dewan Direksi PT IKI. Terpilih :
1. Bapak Harry Sampurno Kuffal sebagai Direktur Utama menggantikan Bapak Abdul Rakhman Caing.
2. Bapak S.A Bandung Bismono sebagai Direktur Pemasaran dan Perencanaan Proyek menggantikan Bapak Hasanuddin B Nur.
3. Bapak Ahril Abdullah sebagai Direktur Teknik menggantikan Bapak Laode Asmar Parsan.
4. dan Bapak Aurelius Larope tetap menjabat sebagai Direktur Keuangan.

Maka beredarlah kabar ini melalui sms, bbm, facebook dll di antara teman-teman. Rasa penasaran pun muncul, bagaimanakah sosok dewan direksi bentukan Bapak Dahlan Iskan ini? Mampukah mereka membawa perubahan di PT IKI? Langkah-langkah seperti apa yang akan mereka ambil? Akankah ada PHK? Beribu tanda tanya inilah yang akhirnya memaksa kami kembali menginjakkan kaki di kantor meskipun dalam status "Diliburkan".

Akhirnya kesempatan untuk melihat langsung direksi baru pun terwujud. Yang menarik perhatian adalah Bapak Harry yang menjadi Dirut, beliau masih muda, penuh semangat, dan punya wajah putih bersih. Sesekali tersenyum menandakan keramahan & ketulusannya.
Tapi masih ada ragu-ragu dalam hati kami, mampukah beliau? Masih muda lhooo. Kemudian langkah-langkah yang beliau tempuh tidak luput dari perhatian saya. Beberapa akan saya coba tuliskan, bukan sebagai pengamat atau sebagai ahli, tapi hanya sebagai staf biasa yang bisa memantau kulit luarnya saja. Yang beliau lakukan tentu lebih hebat dari apa yang bisa saya tuliskan.

Langkah awal, menghidupkan kembali budaya disiplin kerja yang sudah lama ditinggalkan karyawan. Datang dan pulang kantor sesuai waktu yang sudah ditentukan. Bagi yang melanggar akan mendapatkan sanksi. Tidak ada yang keberatan, karena peraturan ini berlaku mulai dari pejabat sampai staff, tidak ada yang diistimewakan.

Kedua, beliau mengumpulkan aspirasi, masukan, keluhan, dan semua pendapat dari seluruh karyawan, tidak terkecuali dari golongan akar rumput. Baik itu melalui forum Duduk Bersama Berbagi Ilmu (DBBI) maupun berbincang langsung dengan karyawan. Mungkin inilah yang jadi pertimbangan beliau untuk melakukan mutasi, perbaikan management & membawa semua divisi berjalan pada koridornya masing-masing. Tidak ada lagi kepentingan lain selain untuk membenahi PT IKI.

Ketiga, mendandani PT IKI. Tercipta kegiatan jumat bersih dimana seluruh karyawan bahkan beliau sendiri terlibat dalam "mempercantik" halaman kantor & halaman produksi. Rumput yang sekian lama hidup bebas menjalar sesuka hati di halaman kantor & produksi dibabat habis. Sampah yang awalnya terbiasa nangkring dimana-mana pun dienyahkan. Bahkan parkiran kendaraan di areal kantor pun jadi tertata rapi. Sungguh elok kelihatan. Perubahan yang tercipta dari gotong royong, yang membawa semangat baru bagi karyawan. Di sini pula tercipta yel-yel yang selalu menyemangati karyawan "PT IKI PASTI BANGKIT!!!".

Keempat, membuka tabir PT IKI yang selama ini tidak dikenal orang. Mencoba menggalang kerja sama beberapa pihak dalam hubungan bisnis yang sehat. Entah karena melihat kondisi PT IKI sekarang yang lebih baik, management perusahaan yang lebih terarah, penawaran kerja sama datang dari berbagai arah. Namun yang pasti, tangan Tuhan lah sebenarnya yang bicara. Inilah hasil dari doa-doa panjang & kesabaran karyawan.  Setelah melalui derita panjang, tentu terasa sangat nikmat keadaan ini. Tidak henti-hentinya rasa syukur dipanjatkan.

Kelima, inilah yang paling diharapkan dan ditunggu-tunggu karyawan, gajian. Tidak ada janji-janji akan dibayarkan atau tidak dari beliau tentu membuat kami berharap-harap cemas. Tapi alangkah indahnya ketika ternyata diserahkan gaji sebulan penuh, yang biasanya dicicil, entah kapan dibayar, sekarang tepat tanggal 1 awal bulan sudah ada di tangan. Alhamdulillah. Selanjutnya gaji dialihkan melalui Bank BRI & tiap-tiap karyawan memiliki rekening sendiri. Banyak kisah lucu dibalik pembukaan rekening ini karena ternyata ada beberapa yang belum paham menggunakan kartu ATM. Ada yang tertelan kartunya karena beberapa kali salah memasukkan PIN, ada yang istrinya marah-marah karena minta uang bukan kartu & tidak mengerti cara menggunakannya, dan lain-lain. Tapi sekarang semua sudah mahir kayaknya hehehe. Sebagai mitra kerja sama, BRI menyediakan ID Card kepada masing-masing karyawan. Inilah yang menjadi identitas bagi kami yang selama ini tidak pernah digunakan lagi.

Keenam, konsisten dalam setiap perbuatan dan keputusan yang diambil. Saya yakin semua keputusan yang dibuat pasti sudah dipikirkan matang-matang dampaknya sehingga nyaris tidak ada revisi.. Semua jelas dan tegas. Kadang terkesan arogan, tapi disinilah titik awal beliau disegani, sebagai pemimpin yang tegas, konsisten, dan berpihak pada kebenaran.

Bapak Dahlan Iskan pun beberapa kali melakukan kunjungan ke PT IKI. Pernah beliau datang di subuh hari ketika karyawan belum ada di kantor. Berjalan mengitari lapangan produksi & memuji kondisi PT IKI yang sudah banyak berubah. Lebih cantik tentunya.

Setelah delapan bulan kebersamaan dengan direksi baru tentu ikatan emosional juga semakin erat. Apalagi semua dapat perlakuan adil. Tidak ada satu pun kesuksesan yang luput dari pujian & tidak satu pun kesalahan yang bisa lepas dari sanksi. Meskipun ada riak-riak kecil, tapi semua bisa diatasi dengan musyawarah dan kekeluargaan.
Sayang sekali, ketika tiba-tiba ada kabar bahwa Bapak Harry Sampurno Kuffal harus meninggalkan PT IKI dan mendapat tugas baru sebagai direktur utama di PT Dahana. Seakan-akan Tuhan akan mencabut nyawa PT IKI, derai air mata & kesedihan karyawan sangat mendalam yang sudah terlanjur "jatuh cinta" pada pimpinannya. Mengapa secepat itu? kami masih butuh tangan hangat beliau untuk membelai PT IKI.

Kalau biasanya saya sering kesal kalau diminta tampil di depan umum untuk mejadi protokol dsb, kali ini saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk membacakan kesan dan pesan dari karyawan pada acara pisah sambut Direksi. Teks yang diberikan bagian Humas, mohon maaf saya rombak sedemikian rupa jadi mirip curahan hati saya. Kapan lagi saya punya kesempatan indah ini untuk mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah beliau lakukan untuk PT IKI.
Begini naskah pesan & kesan yang saya sampaikan :


Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Selamat sore dan salam sejatera.
Yang kami hormati, Bapak Komisaris PT IKI
Yang kami muliakan Bapak Direksi PT IKI
Yang kami banggakan Bapak Fajar Harry Sampurno Kuffal & Nyonya
Seluruh karyawan karyawati, Bapak2 & Ibu2 yang sempat hadir dalam acara ini.

Hadirin yang berbahagia,
Sungguh tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah 8 bulan kebersamaan kita dinakhodai oleh jajaran Direksi baru. Begitu banyak pengalaman, pelajaran dan pengetahuan yang telah kami dapatkan. Semuanya itu sangat berguna bagi kami.

Kini, akhirnya hari perpisahan itu tiba. Meskipun kami sadari bahwa. pelaksanaan pergantian direksi pada suatu lembaga BUMN adalah sudah merupakan hal yang lumrah dan merupakan realisasi dari kebijaksanaan pemerintah, namun rasa sedih & haru pasti tetap mewarnai hati kami selaku karyawan/ti PT IKI dalam acara pisah sambut Direksi kali ini.
Bagaimana tidak, pertama kali Bpk F. Harry Sampurno Kuffal selaku Dirut menginjakkan kaki di PT IKI, yang ditemui di sini adalah karyawan/ti yg sdh hampir putus harapan, tidak semangat kerja, tidak percaya diri, bahkan nyaris tidak yakin bahwa PT IKI akan bangkit.
Mungkin Bpk Dirut bisa merasakan tatapan & sikap kami waktu pertama kali ke PT IKI, sinis & acuh tak acuh. Bahkan beberapa di antara kami mencibir dan kurang yakin bahwa Bapak yg Nampak masih muda & sangat enerjik bisa menstabilkan PT IKI yg sudah oleng tanpa membawa bantuan dana dari pemerintah.

Tapi betapa kami salut bahwa sikap kami itu ditanggapi dengan ramah, senyuman, dan kelembutan dari Bapak. Tidak banyak bicara tapi banyak bertindak. & yg paling kami hargai adalah sikap konsisten Bapak dalam segala kebijakan positif yg diambil sehingga kami malu hati sendiri. Dorongan semangat, kerja sama, sikap peduli sungguh menciptakan kembali rasa memiliki PT IKI dalam hati kami.

Dan terlebih lagi, sejak kedatangan Bapak, gaji yang sebelumnya kami terima setengah-setengah bahkan kadang harus melalui aksi-aksi demo dahulu, bisa kami terima full. Tentunya bukan karena ada bantuan dari pemerintah, tapi karena adanya kesungguhan dan kebijaksanaan dari Managemen untuk mengelola keuangan yg ada sehingga mampu menggaji karyawan. Terima kasih, pak.

Namun, alangkah terkejutnya kami ketika mendengar kabar bahwa Bapak Harry kemudian harus meninggalkan PT IKI karena tugas yang tak kalah pentingnya di tempat lain. Terus terang ada rasa gelisah sedih, dan terpukul dalam hati kami. Secepat itu sajakah kebersamaan kita? Sementara masih banyak benang kusut yang harus diluruskan di PT IKI. Kami semua masih menginginkan sentuhan tangan beliau. Kami merasa masih rapuh untuk ditinggalkan. Tapi kami pun tidak berdaya menahan kepergian Bapak, tentunya demi tugas & karir bapak.

Kita semua harus tetap semangat dan tidak boleh patah arang, Direksi yang masih bertugas masih mendukung dan akan melanjutkan tugas yang tinggalkan oleh Bapak Harry.
Pak Bandung, Pak Ahril, & Pak Larope adalah orang2 yang brillian yang diberikan kepercayaan oleh menteri BUMN untuk mengelola PT IKI lebih baik lagi. Kami semua mendukung kebijakan Bapak Direksi.

Akhirnya kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika selama kebersamaan kita selama 8 bulan terjadi banyak tumpahan air mata, kesedihan & kesalahan, namun kami sadar bahwa semua itu adalah proses untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Selamat jalan Bapak Fajar Harry Sampurno Kuffal, selamat bertugas di tempat yang baru. Banyak hal positif serta kesan yang begitu mendalam yang telah Bapak berikan selama bertugas di PT IKI. Saya yakin semua hal tersebut akan semakin mempererat tali persaudaraan diantara kita, meskipun tidak bertugas di PT IKI lagi, teriring doa serta harapan semoga Allah, SWT senantiasa melimpahkan rahmat serta perlindungannya kepada Bapak dan keluarga. Tentunya kami semua tidak akan pernah melupakan jasa Bapak dan kami harap supportnya selalu.

EWAKO BAPAK HARRY SAMPURNO !

Dan kepada Bapak Bandung Bismono, kami menyampaikan selamat melanjutkan perbaikan di PT IKI. Kami semua percaya bahwa dengan kemampuan dan pengalaman yang bapak miliki, mampu membangun kembali PT IKI maju & berhasil. Kapasitas Bapak sangat kami puji & kami banggakan.
Selamat bertugas Pak Bandung, saya juga ingin menyampaikan

EWAKO BAPAK BANDUNG !

Demikianlah kesan dan pesan yang dapat Saya sampaikan dalam acara Pisah Sambut ini. Mari kita mulai babakan baru ini dengan semangat yang baru pula dalam membangun PT IKI yang kita cintai, dengan senantiasa memohon dan berharap kepada Allah, SWT, agar setiap karya dan bhakti yang kita lakukan senantiasa mendapat ridho dan petunjuk-Nya. Amin. Sekian dan Terima Kasih Wassalamualaikum Wr. Wb


Setelah membacakan pesan & kesan tersebut, beliau bangkit dari tempat duduk dan memeluk saya erat. Tetap dalam hati, saya tetap sedih karena itu adalah pelukan perpisahan.



 Foto bersama beliau saat pameran pembangunan di CCC


Bersama teman-teman TIM Mina Jaya saat akan melakukan Inventarisasi KM Mina Jaya

Saat membawakan Pesan & Kesan dalam acara Pisah Sambut Direksi



Saat jalan santai bersama teman karyawati PT IKI di Jl Tanjung Bunga 





Selasa, 19 Februari 2013

3 tahun yang butuh sabar & ikhlas

21 September 2012, awal mula kesabaran & keikhlasan harus ada untuk menjalani hari-hari jadi seperti "single parents"
Jauh-jauh hari sebelum tanggal itu tiba, semua sudah dipersiapkan & rencana sudah disusun sedemikian rupa. Awal bulan agustus 2012, setelah acara halal bi halal di kantor, saya mencoba mendekati Bapak Harry Sampurno Kuffal yang saat itu menjadi Direktur Utama PT Industri Kapal Indonesia (Persero). Dengan sedikit gugup, saya mencoba minta ijin untuk ikut suami yang akan melanjutkan study program doktoral di Ehime University Matsuyama Jepang. Dalam hati ada rasa takut kalau permohonan saya ditolak, berantakan deh rencana yang sudah disusun dengan rapih. Tapi ternyata ekspresi beliau bisa membuat rasa gugup mencair. " Iya ibu Isma, gapapa. Itu hal yang biasa untuk memohon cuti di luar tanggungan perusahaan. Buat surat permohonan saja ke kantor".
Alhamdulillah...langsung saya kabari suami via BBM kalau sudah dapat ijin secara lisan dari Big Boss hehehe.
Skenario awal, suami yang berangkat duluan ke Jepang untuk mencari apato family & sekolah untuk anak-anak sekalian untuk adaptasi duluan di negeri orang. Perlu juga mengurus COE (Certificate of Egibility) untuk saya & anak-anak agar bisa mendapatkan Visa Khusus tinggal selama suami study di Jepang (3 tahun). Bulan Januari, saya & anak-anak akan menyusul kesana.
Sampailah bulan September 2012, tiba-tiba saya dan anak-anak sakit di saat suami sibuk-sibuknya mengurus perlengkapan dan dokumen yang dibutuhkan untuk berangkat ke Jepang tanggal 21, sehingga saya harus mengambil cuti untuk istirahat di rumah. Davia & Dandy pun harus ijin tidak masuk sekolah karena sakit. Kasian juga melihat suami mengurus segala sesuatunya sendiri, ditambah mengurusi saya & anak-anak yang sedang sakit. Sampai hari H, saya & Dandy sudah mulai baikan, Davia masih demam tapi tetap memaksakan diri mengantar papanya ke Bandara Sultan Hasanuddin.
Akhirnya, papa berangkat hari itu. Selamat jalan, hati-hati & tunggu kami menyusul nanti.
2 hari kemudian, tiba-tiba ada kabar kalau di kantor ada pergantian direksi. Bapak Harry Sampurno Kuffal tidak lagi menjadi Dirut di PT IKI & digantikan oleh Bapak S.A Bandung Bismono. Dirut yang baru ternyata tidak memberikan kebijakan yang sama kepada saya untuk mengambil cuti di luar tanggungan perusahaan. Tapi saya tetap mencoba untuk mengajukan permohonan kepada beliau, & jawabannya sangat menyakitkan hati. Bahwa saya tidak diberikan cuti tersebut, & kalau bersikeras untuk ikut suami dipersilahkan resign dari kantor. Bagaimana saya kabari suami disana? sementara persiapan dan rencana yang kami buat sudah matang. Anak-anak pun sudah mendapat ijin dari sekolah. Kami berencana, tapi kenyataan berkata lain. Saya pun tidak bisa memaksa direksi untuk memberikan ijin karena tidak ada Undang-Undang yang mengatur tentang cuti tersebut, sepenuhnya menjadi Hak Perusahaan untuk memberi ijin atau tidak.
Sebenarnya saya tidak biasa jauh-jauh dari suami. Mungkin karena saya diperlakukannya teramat manis, tidak pernah menuntut ini itu, sangat mencintai keluarga, & saya jadi manja dengan semua itu.
Ini yang membuat saya sangat sedih ketika ijin cuti saya ditolak. Bagaimana saya menjalani dan mengurus semua seorang diri? Hal-hal yang dulunya terima beres, sekarang harus saya selesaikan sendiri.
Langkah awal adalah mempermahir kembali mengemudi mobil yang tinggal saja di garasi selama suami pergi. Setiap hari hanya dipanaskan tanpa bergerak karena selama ini saya tahunya di antar jemput suami sampai tidak lincah lagi bawa mobil ditambah kondisi jalan di Makassar yang bertambah macet.
Pagi-pagi mengurus dandy yang masih duduk di bangku TK, mulai dari sarapan, mandi, menyiapkan bekal, sampai diantar ke sekolah yang biasanya dihandle suami. Davia sudah pintar mengurus diri sendiri karena sudah  kelas 5 SD. Tinggal sewa ojek untuk antar jemputnya setiap hari.
Setelah pagi-pagi yang super sibuk selesai, akhirnya berangkat ke kantor. Harus sendiri lagi, padahal biasanya tinggal minta antar sama suami. Urus pajak, belanja bulanan, cari buku untuk anak-anak, bayar ini itu, cuci mobil motor, dan urusan lainnya yang ternyata melelahkan harus dijalani sendiri. Biasanya, malam minggu kita boncengan berdua ke Pantai Losari, atau makan sate gumer, atau karaoke an, atau minum sarabba di Hertasning.... Paaaa, i miss u.
Hari-hari pun berlalu, tapi rasanya hambar. Maaf ternyata saya sangat merepotkanmu selama ini. Baru sadar karena papa tidak pernah mengeluh. Pengalaman ini membuat saya bisa lebih sabar, tenang menghadapi persoalan, & lebih ikhlas.
Facebook, skype, email, & whatsapp pun jadi sarana komunikasi di antara kita sehingga bisa ngobrol setiap hari meskipun just say hello, how are you, sudah makan belum, lagi ngapain. Tapi sebenarnya jadi tambah kangen dengan semua itu. Saya jadi iri lihat orang-orang gandengan tangan sama suaminya di mall, jadi sebel liat teman-teman yang di antar jemput suaminya di kantor.. huffttt. 3 tahun ini rasanya menyiksa, tapi harus kuat, sabar, & ikhlas demi anak-anak. Doaku selalu menyertaimu semoga study mu berjalan lancar, selalu sehat & semangat melalui hari-hari di negeri orang.
Saat ini, Februari 2013 adalah ulang tahun pernikahan kita yang ke-12. Tidak henti-hentinya bersyukur bahwa Allah SWT telah memberikan pendamping hidup buat saya yang benar-benar tulus, sabar, & mampu melalui hari-hari dalam suka dan duka dengan tegar. Semoga kita menjadi keluarga yang diridhoi Allah SWT.
Tiket Air Asia ke Jepang bulan Maret 2013 pun sudah ditangan. Semoga bisa menyaksikan bunga sakura mekar di musim semi bersamamu. "Merekah-rekah rencana, apa kan kita buat jika ada perjumpaan" (KLA Project)



Senin, 11 Februari 2013

Mengurus Visa Dependent ke Jepang

Setelah berburu tiket promo AirAsia bulan Nopember 2012, akhirnya dapat juga tiket murah ke Jepang bersama anak-anak. Berangkat bulan Maret 2013, hahahaha....masih lama ya. Begitulah tiket promo AirAsia, harus beli jauh-jauh hari sebelumnya. Tapi kadang masih ada koq kesempatan dapat tiket promo mendekati tanggal rencana keberangkatan, klo anda beruntung. Tidak sabar rasanya segera menyusul suami yang sementara melanjutkan studi program doktoral di Ehime University Jepang.

Tiket dan Paspor sudah di tangan, selanjutnya persiapan mengurus Visa Jepang.
Setelah menelpon Konjen Jepang wilayah Yuridis Makassar Jl. Jend Sudirman Makassar, ternyata banyak dokumen yang dibutuhkan untuk pengurusan Visa.

Diantaranya :
1. Paspor
2. KTP
3. Form aplikasi Visa & pas foto terbaru ukuran 4,5 x 4,5
4. Fc Akte kelahiran
5. Fc Kartu Keluarga
6. Fc Akte Nikah (bagi yang sudah berkeluarga)
7. Surat keterangan kerja & izin dari kantor (bagi yang bekerja) atau Surat Keterangan Sekolah (bagi pelajar atau mahasiswa).
8. Bukti keuangan, misal rekening koran 3 bulan terakhir jika ke Jepang atas biaya sendiri & rekening koran 3 bulan terakhir pengundang jika atas biaya teman atau keluarga yang mengundang.
9. Bukti hubungan keluarga dengan pengundang, misalnya foto bersama atau print out percakapan di fb atau whatsapp.
10. Fc Paspor pengundang (jika pengundang adalah orang Indonesia yang menetap sementara di jepang)
11. Fc Allien Card pengundang (Kartu Penduduk Jepang pengundang)
12. Bukti booking hotel di Jepang
13. Jadwal perjalanan selama di Jepang
14. Bukti pemesanan tiket PP. Misal kota asal Makassar, berarti harus melampirkan tiket PP dari Makassar kembali ke Makassar lagi.

hmmm.....apa lagi ya?? untuk lebih jelasnya bisa buka website resmi Konjen Jepang atau nelpon ke kantor Konjen Jepang ya. Jangan khawatir, pegawainya ramah-ramah dan santun.

Awal Januari, di Jepang suami mengurus Certificate Of Eligibility (COE). COE adalah surat keterangan yang berisi tentang kelayakan seseorang untuk tinggal di Jepang dalam jangka waktu tertentu. COE ini disertakan sewaktu akan mengurus VISA untuk tinggal di jepang (lebih dari 90 hari). Untuk pengurusannya di Jepang saya kurang paham, yang jelas saya mau terima beres saja hehehe....
3 minggu kemudian, COE sudah jadi & dikirim ke Indonesia. Via pos EMS kurang lebih 1 minggu sudah sampai di rumah. Alhamdulillah.

Saatnya cuci foto ukuran 4,5x4,5. Kedengarannya aneh juga ukuran fotonya, tapi itulah persyaratan untuk mengurus visa Jepang. Tidak mungkin protes kan, ikuti saja apa mau mereka, toh nantinya mereka yang memutuskan Visa bisa keluar atau ditolak.

Setelah semua dokumen yang dibutuhkan siap, masih ada rasa penasaran siapa tau masih ada dokumen yang lupa saya lampirkan. Kalau dokumen tidak lengkap, otomatis berkas ditolak. Kan rugi waktu & tenaga untuk bolak balik. Akhirnya, saya putuskan menelpon kembali Konjen Jepang Makassar. Saya sampaikan bahwa saya telah memiliki COE dari Jepang. Pegawainya lalu menyebutkan dokumen yang harus saya bawa :
1. COE asli & Copy
2. Paspor asli & Copy
3. Form yang telah diisi ditempel foto terbaru uk 4,5 x 4,5
4. KTP asli & Copy
5. Fc Kartu Keluarga
6. Fc Akte Kelahiran
7. Fc Akte nikah
8. Asli Surat keterangan kerja/sekolah 
9. Bukti pemesanan tiket ke Jepang. Pulangnya tidak perlu karena COE berlaku selama 3 tahun.

Itu saja? hmmm...informasi sebelumnya tidak begitu, banyak dokumen lain yang harus dilampirkan. Tapi pegawainya bilang kalau yang perlu saya bawa ya itu saja. Syukurlah kalau begitu.. Tapi tetap saya membawa semua dokumen lainnya, siapa tau di siana diminta, kan tinggal diselipkan di berkas.

Tanggal 11 Februari, saya memberanikan diri menuju Konjen Jepang di Jl. Jend. Sudirman Makassar. Sempat tidak yakin bahwa kantor itu masih buka karena sangat tertutup. Pagar pun terkunci rapat. Ternyata ada gerbang masuk lewat Jl. Monginsidi, tapi tertutup rapat juga dengan gembok di pagar. Setelah memarkir kendaraan di jalan, saya mencoba mendekati pagar, tiba-tiba muncul security berbaju hitam. Deg, mulai gugup nih. Eh, pak security nya senyum, lumer deh gugupnya hehehe.
Maaf, ada yang bisa saya bantu, bu?
Saya mau urus visa, pak.
Bisa bu, katanya sambil membuka gembok pagar & mempersilahkan saya masuk.

Ternyata ada pos kecil di samping pagar, dan saya dipersilahkan masuk. Di dalam ada 2 orang security lagi. Mereka meminta KTP saya dan mencatat di buku tamu. HP & Laptop tidak boleh dibawa masuk, semua harus dititip di pos security & saya diberi  kartu bukti penitipan barang. Mereka semua ramah koq, tidak usah takut. Padahal dalam hati masih dag dig dug, selanjutnya apa lagi ya?

Selanjutnya, masuk ke ruangan sebelah yang ada metal detectornya. Kayak di bandara aja. Tas juga dimasukkan ke alat scanner untuk dilihat isinya. Kalau ada yang mencurigakan, akan diperiksa. Tapi kalau tidak ada, bisa masuk ke dalam ruangan untuk memasukkan dokumen visa.

Di dalam ruangan, sangat adem & tenang. Di sisi kanan ada televisi yang memutar film-film dokumenter tentang budaya Jepang. Ada juga rak buku-buku & brosur tentang info-info yang ada di Jepang. ada juga kursi tamu. Di sisi kiri ada kursi Satpam & ada ruangan yang dibatasi kaca tebal. Setelah menunggu beberapa menit, saya dipersilahkan oleh security untuk memasukkan dokumen di lubang kecil di bawah kaca. Mirip tempat kasir di kantorku. Di sana sudah berdiri seorang petugas wanita yang ramah. Dokumenku diperiksa. Ups! ada yang kurang. Harusnya form aplikasi untuk anak-anak saya tandatangani juga. Dibubuhi keterengan sign by mother & nama lengkap ibu.

Setelah selesai, dokumen dibawa masuk ke dalam & saya dipersilahkan menunggu. Setelah beberapa menit, petugas wanita tadi muncul lagi di balik kaca dan mengembalikan map & KTP asli yang saya masukkan tadi. Tapi dokumen lainnya sudah diambil. Petugas memberikan selembar kertas & saya diminta membacanya. Setelah itu tandatangan dan diberikan tanda terima dokumen & diminta kembali hari kamis tgl 14 februari siang. Rasanya sedikit lega, mudah-mudahan disetujui & visa segera keluar.
Plong deh, karena dokumen yang dibutuhkan tidak terlalu banyak untuk permohonan visa dependent yang dilangkapi COE. Tinggal perbanyak doa agar Visa disetujui & diberi kesehatan agar saya & anak-anak bisa mengunjungi suami di Jepang. Rasa rindu sudah tak terkatakan lagi setelah 6 bulan berpisah. Papa, wait us....