21 September 2012, awal mula kesabaran & keikhlasan harus ada untuk menjalani hari-hari jadi seperti "single parents"
Jauh-jauh hari sebelum tanggal itu tiba, semua sudah dipersiapkan & rencana sudah disusun sedemikian rupa. Awal bulan agustus 2012, setelah acara halal bi halal di kantor, saya mencoba mendekati Bapak Harry Sampurno Kuffal yang saat itu menjadi Direktur Utama PT Industri Kapal Indonesia (Persero). Dengan sedikit gugup, saya mencoba minta ijin untuk ikut suami yang akan melanjutkan study program doktoral di Ehime University Matsuyama Jepang. Dalam hati ada rasa takut kalau permohonan saya ditolak, berantakan deh rencana yang sudah disusun dengan rapih. Tapi ternyata ekspresi beliau bisa membuat rasa gugup mencair. " Iya ibu Isma, gapapa. Itu hal yang biasa untuk memohon cuti di luar tanggungan perusahaan. Buat surat permohonan saja ke kantor".
Alhamdulillah...langsung saya kabari suami via BBM kalau sudah dapat ijin secara lisan dari Big Boss hehehe.
Skenario awal, suami yang berangkat duluan ke Jepang untuk mencari apato family & sekolah untuk anak-anak sekalian untuk adaptasi duluan di negeri orang. Perlu juga mengurus COE (Certificate of Egibility) untuk saya & anak-anak agar bisa mendapatkan Visa Khusus tinggal selama suami study di Jepang (3 tahun). Bulan Januari, saya & anak-anak akan menyusul kesana.
Sampailah bulan September 2012, tiba-tiba saya dan anak-anak sakit di saat suami sibuk-sibuknya mengurus perlengkapan dan dokumen yang dibutuhkan untuk berangkat ke Jepang tanggal 21, sehingga saya harus mengambil cuti untuk istirahat di rumah. Davia & Dandy pun harus ijin tidak masuk sekolah karena sakit. Kasian juga melihat suami mengurus segala sesuatunya sendiri, ditambah mengurusi saya & anak-anak yang sedang sakit. Sampai hari H, saya & Dandy sudah mulai baikan, Davia masih demam tapi tetap memaksakan diri mengantar papanya ke Bandara Sultan Hasanuddin.
Akhirnya, papa berangkat hari itu. Selamat jalan, hati-hati & tunggu kami menyusul nanti.
2 hari kemudian, tiba-tiba ada kabar kalau di kantor ada pergantian direksi. Bapak Harry Sampurno Kuffal tidak lagi menjadi Dirut di PT IKI & digantikan oleh Bapak S.A Bandung Bismono. Dirut yang baru ternyata tidak memberikan kebijakan yang sama kepada saya untuk mengambil cuti di luar tanggungan perusahaan. Tapi saya tetap mencoba untuk mengajukan permohonan kepada beliau, & jawabannya sangat menyakitkan hati. Bahwa saya tidak diberikan cuti tersebut, & kalau bersikeras untuk ikut suami dipersilahkan resign dari kantor. Bagaimana saya kabari suami disana? sementara persiapan dan rencana yang kami buat sudah matang. Anak-anak pun sudah mendapat ijin dari sekolah. Kami berencana, tapi kenyataan berkata lain. Saya pun tidak bisa memaksa direksi untuk memberikan ijin karena tidak ada Undang-Undang yang mengatur tentang cuti tersebut, sepenuhnya menjadi Hak Perusahaan untuk memberi ijin atau tidak.
Sebenarnya saya tidak biasa jauh-jauh dari suami. Mungkin karena saya diperlakukannya teramat manis, tidak pernah menuntut ini itu, sangat mencintai keluarga, & saya jadi manja dengan semua itu.
Ini yang membuat saya sangat sedih ketika ijin cuti saya ditolak. Bagaimana saya menjalani dan mengurus semua seorang diri? Hal-hal yang dulunya terima beres, sekarang harus saya selesaikan sendiri.
Langkah awal adalah mempermahir kembali mengemudi mobil yang tinggal saja di garasi selama suami pergi. Setiap hari hanya dipanaskan tanpa bergerak karena selama ini saya tahunya di antar jemput suami sampai tidak lincah lagi bawa mobil ditambah kondisi jalan di Makassar yang bertambah macet.
Pagi-pagi mengurus dandy yang masih duduk di bangku TK, mulai dari sarapan, mandi, menyiapkan bekal, sampai diantar ke sekolah yang biasanya dihandle suami. Davia sudah pintar mengurus diri sendiri karena sudah kelas 5 SD. Tinggal sewa ojek untuk antar jemputnya setiap hari.
Setelah pagi-pagi yang super sibuk selesai, akhirnya berangkat ke kantor. Harus sendiri lagi, padahal biasanya tinggal minta antar sama suami. Urus pajak, belanja bulanan, cari buku untuk anak-anak, bayar ini itu, cuci mobil motor, dan urusan lainnya yang ternyata melelahkan harus dijalani sendiri. Biasanya, malam minggu kita boncengan berdua ke Pantai Losari, atau makan sate gumer, atau karaoke an, atau minum sarabba di Hertasning.... Paaaa, i miss u.
Hari-hari pun berlalu, tapi rasanya hambar. Maaf ternyata saya sangat merepotkanmu selama ini. Baru sadar karena papa tidak pernah mengeluh. Pengalaman ini membuat saya bisa lebih sabar, tenang menghadapi persoalan, & lebih ikhlas.
Facebook, skype, email, & whatsapp pun jadi sarana komunikasi di antara kita sehingga bisa ngobrol setiap hari meskipun just say hello, how are you, sudah makan belum, lagi ngapain. Tapi sebenarnya jadi tambah kangen dengan semua itu. Saya jadi iri lihat orang-orang gandengan tangan sama suaminya di mall, jadi sebel liat teman-teman yang di antar jemput suaminya di kantor.. huffttt. 3 tahun ini rasanya menyiksa, tapi harus kuat, sabar, & ikhlas demi anak-anak. Doaku selalu menyertaimu semoga study mu berjalan lancar, selalu sehat & semangat melalui hari-hari di negeri orang.
Saat ini, Februari 2013 adalah ulang tahun pernikahan kita yang ke-12. Tidak henti-hentinya bersyukur bahwa Allah SWT telah memberikan pendamping hidup buat saya yang benar-benar tulus, sabar, & mampu melalui hari-hari dalam suka dan duka dengan tegar. Semoga kita menjadi keluarga yang diridhoi Allah SWT.
Tiket Air Asia ke Jepang bulan Maret 2013 pun sudah ditangan. Semoga bisa menyaksikan bunga sakura mekar di musim semi bersamamu. "Merekah-rekah rencana, apa kan kita buat jika ada perjumpaan" (KLA Project)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar