Masih segar dalam ingatan ketika pertama kali Ahmad Dzakwan Riskandy (Dandy) (6 tahun), anak saya yang kedua, pertama kali menginjakkan kaki di sebuah Yochien (Taman Kanak-Kanak) di Dogo Matsuyama Jepang. Namanya Dogo Houk Koen.
Sebelumnya, Pagi-pagi saya sudah sibuk menyiapkan bekal untuk makan siang Dandy di sekolah, di Jepang mereka sebut bento. Hal ini sudah biasa saya lakukan sewaktu Dandy sekolah di TKIT Wihdatul Ummah Makassar. Ada nasi, kentang goreng, ayam goreng, & air minum. Saya juga membawa kasur kecil, baju tidur, platik tempat baju kotor, handuk, dan serbet. Tidak seperti di Indonesia, Taman Kanak-Kanak di sini dimulai dari pagi sampai sore sehingga anak-anak harus membawa bekal dan tentu saja kasur kecil tadi untuk tidur siang. Dandy pun sepertinya bersemangat sekali akan memulai hari pertamanya sekolah.
Karena pengalaman pertama, saya masih repot untuk mengantar Dandy sendiri dengan kasur kecilnya itu. Akhirnya, suami saya pun harus ikut mengantar, bukan saja karena repot dengan bawaannya Dandy, tapi saya tidak tahu harus bicara apa ketika sampai disana. Saya belum bisa bahasa Jepang, sementara suami saya yang memang study di sini, sudah lumayan bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang, meskipun kadang masih terbata-bata hehehe.
Tempat memarkir sepeda di depan sekolah Dandy. Yahh, kami mengantarnya dengan sepeda, makanya saya bilang agak repot kalau saya seorang diri yang antar karena sudah lamaaaaaa sekali saya tidak naik sepeda, agak kaku rasanya, mana harus bawa kasur kecil pula.
Apalagi jalannya ada yang mendaki, bikin ngos-ngosan saja. Tapi lumayan menghangatkan badan karena waktu itu cuaca di Matsuyama masih dingin, sekitar 10oC. Suami saya sering memberi semangat kalau saya berhenti di jalan, "ganbatte" katanya, Semangat !!! hehehe.
Di depan pintu masuk sekolah, ada penjelasan dan pajangan menu makan siang untuk hari ini. Jadi setiap hari berubah-ubah. Orang tua bisa melihat menu makan siang & snack sore anak-anak mereka, mungkin kalau ada anak yang alergi atau tidak bisa makan dengan menu itu, bisa disampaikan ke pihak sekolah.
Sampai di sekolah, kami diantar menuju ruangan kelas Dandy. Oh iya, saya kagum sekali dengan suasana sekolah ini, sangat bersih dan teratur. Setiap berpapasan dengan sensei (guru) atau orang tua murid lainnya, pasti mereka mengucapkan salam "ohaio gozaimase", artinya selamat pagi sambil membungkukkan badan. Perasaan kaku saya lansung lumer, suasananya langsung hangat dan menyenangkan. Sepatu harus dibuka sebelum masuk dan di taruh di tempat/rak sepatu yang sudah disediakan. Rak sepatu untuk anak-anak diberi label sesuai nama mereka, begitu juga Dandy. Disediakan juga sendal rumah untuk orang tua yang harus dipakai di dalam ruangan. Kelas Dandy ada di lantai 2. Di ujung tangga lantai 2 ada pintu besi dengan pengait di bagian atas. Pintu ini adalah pengaman agar anak-anak tidak turun ke lantai bawah, dan pengaitnya di bagian atas agar tidak terjangkau oleh anak-anak. Kelas Dandy berada di sebelah kanan dari ujung tangga. Di sampingnya ada toilet untuk anak-anak, lucu sekali menurut saya. Dan lagi-lagi, sangat bersih !!
Di depan kelas ada semacam jemuran, ternyata untuk menggantung serbet masing-masing anak. Jadi setiap murid harus membawa serbet yang akan digunakan setelah cuci tangan.
Sampailah Dandy di kelasnya, disambut sensei yang sangat ramah. Tapi sayang, dia tidak bisa bahasa inggris dan saya pun tidak bisa bahasa jepang. Suami saya lah yang akhirnya harus mendominasi pembicaraan. Sensi lalu memeriksa tas Dandy, dia mengeluarkan bekal bento yang kami bawa. Dia katakan bahwa seharusnya kami hanya membawa nasi putih saja karena lauk pauk, snack sore, dan air minum disediakan di sekolah. Syukurlah kalau begitu, tugas saya di pagi hari jadi lebih ringan hehehe.
Sensei juga menjelaskan bahwa di depan kelas dekat tempat serbet tadi ada absen murid. Orang tua harus mengisi sendiri absen tersebut berdasarkan jam datang dan pulangnya nanti. Tidak perlu repot lirik-lirik jam tangan deh, karena di atas meja itu juga ada jam digital dan pulpen. Pokoknya, tinggal tulis. Tapi...ups, namanya Dandy yang mana ya? secara tulisan kanji semua. Ini dia penampakan namanya Dandy, seperti yang tertulis di ID Card nya. Hehehe, lucu ya....
"Hi Dandy kun. Ohaio gozaimas. Genki desu ka?" tanya sensei, yang artinya hai anak Dandy. Selamat pagi. Apa kabar? sehat kan? kun menunjukkan anak laki-laki, kalau anak perempuan cang, begitu penjelasan suami saya.
Nah, setelah penjelasan dari Sensei, saya harus meninggalkan Dandy di sekolah. Ehhh, tiba-tiba Dandy nangis. Mungkin dia merasa asing dengan suasana di sekolahnya. Apalagi dia tidak paham apa yang dikatakan senseinya. Beberapa teman-teman sekolah Dandy menghampiri, mengajak Dandy main, lagi-lagi dalam bahasa Jepang, hehehe....maaf ya, Dandy tidak mengerti.
Aduhh, rasanya saya tidak tega meninggalkan Dandy di sekolah dalam keadaan seperti itu. Saya khawatir besok dia tidak mau lagi ke sekolah. Keceriaannya pagi tadi berubah jadi tangisan dan histeris, terus menarik baju saya melarang saya pulang. Sensei berusaha membujuk Dandy yang terus memeluk saya. Dia berbicara kepada saya yang tentu saja saya tidak paham. Suami saya yang menerjemahkan, katanya tidak apa-apa, semua anak-anak asing rata-rata seperti itu di hari pertama sekolah. Saya diminta pulang saja, nanti mereka yang tangani. Anak-anak aman di sini, katanya.
Saya bisikkan di telinga Dandy " Dandy jangan nangis, sebentar sore mama jemput. Nanti kita mampir di taman untuk main luncuran". Lalu saya meninggalkan Dandy masih dalam keadaan menangis dalam pelukan senseinya.
Di sepanjang jalan pulang, saya tidak banyak bicara. Pikiran saya masih tertuju pada Dandy. Is he okay there??? Tapi suami saya berusaha meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Yahh, i hope so. Suami saya berbelok ke arah kampusnya, dan saya meneruskan perjalanan kembali ke apato. Kami janjian bertemu sebentar sore di depan kampus untuk bersama-sama menjemput Dandy. Tidak sabar rasanya lekas sore agar saya segera menjemput Dandy.
Begitu waktu menunjukkan pukul setengah 4 sore, saya bergegas menuju depan kampus. Di sana, suami saya sudah menunggu dan kami beriringan naik sepeda ke arah Dogo untuk menjemput Dandy. Saya lihat suami saya membawa bungkusan kecil berisi snack dan coklat. Hehehe, pasti itu buat Dandy deh.
Sampai di sana, beberapa orang tua pun sudah berdatangan menjemput anaknya. Seperti sebuah tradisi, saling bertegur sapa rasanya wajib setiap kali bertemu dengan orang tua murid yang lainnya, juga dengan sensei yang lain. "konichiwa" artinya selamat siang.
Tiba di depan kelas Dandy, murid-murid sedang menikmati snack sore, seorang sensei membersihkan ruangan yang tadi dipakai anak-anak tidur siang. Kasur kecil yang mereka pakai sudah digulung kembali dan saatnya menikmati snack sore di atas meja dan kursi-kursi kecil yang menurut saya sangat lucu. Karena saya sudah menjemput, Dandy pun beranjak dari tempat duduknya sementara sensei lainnya menyiapkan barang-barang Dandy.
Ehh, Dandy ternyata tidak menangis lagi. Malah dia riang gembira dan kembali ceria. Saya jadi penasaran bagaimana cara sensei membujuk Dandy ya. Saya kenal sekali Dandy, dia tidak bisa dipaksa untuk menyukai sesuatu. Jadi kalau dia gembira begini, berarti dia suka di sekolahnya. Wahhh...senangnya.
Tapi masih penasaran, bagaimana bisa??? tadi pagi saya tinggalkan masih nangis-nangis, pas saya jemput jadi ceria begini. Wah, sensei hebat !! two thumbs for you.
Mereka memang sangat profesional dengan pekerjaannya. Mereka memperlakukan anak-anak seperti anak sendiri sehingga anak-anak nyaman di sekolah. Di Taman Kanak Kanak di Jepang, anak-anak tidak menerima pelajaran teori di kelas seperti layaknya di Indonesia. Betul-betul merupakan tempat bermain dan di sinilah mereka mulai ditanamkan sikap sopan, tertib, dan disiplin. Tidak heran kalau akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik karena sudah dilatih sejak kecil. Saya perhatikan, para sensei mengajarkan untuk selalu memberi salam dan bertegur sapa kepada orang sekitar, mengajarkan hidup sehat dan bersih, teratur waktu makan, tidur, & bermain. Menjaga alam sekitar. Bahkan masuk di toilet pun mereka diajarkan untuk membersihkan toilet setelah mereka gunakan. Jadi, toiletnya tidak pernah kotor.
Nih, Dandy bergaya depan tanjakan ke sekolahnya waktu pulang sekolah hehehe
Bangunan di belakang Dandy, itulah sekolahnya. Tempat saya berdiri mengambil gambar ini adalah tempat parkir sepeda. Hari-hari berikutnya, saya sendiri yang mengantar Dandy, tidak perlu diantar suami lagi, biar pun saya selalu tidak mengerti apa yang dikatakan sensei Dandy. Cukuplah kami pakai bahasa isyarat kalau ada yang penting untuk disampaikan. Setiap hari jumat, saya selalu bersama suami menjemput Dandy karena kasur kecilnya dibawa pulang lagi berhubung sabtu minggu sekolahnya libur.
***********************************
Akhirnya, hari ini, tanggal 8 Mei 2013, saya dan suami mengantar Dandy ke sekolah untuk berpamitan kepada senseinya. Saya dan Dandy harus kembali ke Indonesia. Masa cuti saya di kantor sudah berakhir, dan Dandy pun harus persiapan masuk Sekolah Dasar di Indonesia.
Tidak lupa, Foto-foto dulu dengan sensei di kelas Dandy. Saya tidak tahu harus memberi apa kepada sensei sebagai oleh-oleh atau kenang-kenangan. Untungnya di apato masih ada kopi asli Indonesia, jadi itu saja yang saya bawa untuk oleh-oleh buat sensei.
Ini nih teman kelasnya Dandy yang sangat lucu dan sangat gaul. Setiap orang pasti disapanya dengan ramah, juga dengan senyumnya yang manis
Terima kasih banyak sensei. Arigato gosaimas. Dandy sangat senang bisa sekolah di sini. Ini akan jadi pengalaman paling berharga buat Dandy & tidak akan terlupakan....
Sampai di pintu gerbang sekolah, seorang staf sekolah ternyata sudah menunggu kami. Mereka memberi salam dan mengucapkan selamat tinggal. Dia juga mengucapkan terima kasih atas oleh-oleh kopi Indonesia dari kami. Wahh, rupanya senseinya Dandy lincah sekali segera mengabari staf sekolah bahwa kami pamit dan membawa oleh-oleh. Dan dengan cepat mereka sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolah mengucapkan "sayonara"
Ini foto kami bersama staf sekolah tersebut
Betul-betul kami merasa sangat dihargai di sini dengn sikap mereka yang sangat ramah, meskipun kepada orang asing seperti kami yang berbeda agama dan budaya. Tidak heran negeri ini disebut negeri damai.
Sayonara sensei dan Dogo Houk Koen....Saya dan Dandy banyak dapat pengalaman baru di sekolah ini. Arigato gosaimasta.
Saatnya pulaaaaaaang
Dan karena suami saya masih ada urusan di kampus, kami berpisah di depan kampus lagi setelah gantian sepeda hehehe. Saya dan Dandy pulang ke apato, siap-siap kepak barang untuk kembali ke Indonesia.
See you at the next story...bye bye.












Itu akan jadi pengalaman indah dan sangat berharga,bukan saja karena kau berada di negeri sakura Dandy sayang, tpi kau belajar mengenal dunia di luar sana masih begituuuu indaaaahhh, dan kau akan mengabarkan keindahan itu masih ada untuk semua orang di negeri Indonesia,yang dulu terkenal keramahannya.....it was
BalasHapuslucu sekali anaknya :D
BalasHapussaya sering melihat anak-anak di jepang sini memakai topi warna-warni lucu juga :D
http://novalvi.wordpress.com/